Mitos Klakson Kendaraan dan Sesaji untuk Watu Blorok di Mojokerto

Mitos Klakson Kendaraan dan Sesaji untuk Watu Blorok di Mojokerto

Watu Blorok di Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto menyimpan legenda sekaligus mitos yang diyakini masyarakat lebih kurang sampai pas ini. Batu ini dianggap keramat sehingga tetap jadi tempat ritual untuk beragam tujuan.
Watu Blorok berada sama juga di pinggir jalur penghubung Mojokerto bersama dengan Gresik. Tepatnya lebih kurang 100 mtr. berasal dari permukiman masyarakat Dusun Pasinan, Desa Kupang. Tak sedikit pengendara membunyikan klakson pas melalui batu tersebut.

“Membunyikan klakson sudah jadi tradisi warga sini pas lewat Watu Blorok. Itu sebagai isyarat permisi ke para penghuni yang tidak kasat mata,” kata Musawamah (42), warga Dusun Pasinan pas berbincang bersama dengan detikcom, Jumat (18/12/2020).

Musawamah mengatakan masyarakat Kupang tetap sangat percaya mitos keangkeran Watu Blorok dan hutan di sekitarnya. Kawasan hutan tersebut termasuk dinamai bersama dengan Watu Blorok. Sejumlah kecelakaan di jalur yang membelah hutan itu diyakini karena problem makhluk gaib.
“Ada yang mengaku setirnya direbut makhluk gaib sampai celaka, tersedia termasuk yang terjatuh karena mengindari bayangan putih yang melintas. Biasanya karena lewat tidak permisi,” ujar ibu dua anak ini.

Di masa modern pas ini, lanjut Musawamah, tetap banyak orang yang menggelar ritual di Watu Blorok bersama dengan beragam tujuan. Sisa-sisa ritual sebenarnya keluar di lokasi. Mulai berasal dari kembang yang berceceran di atas batu, sampai dupa yang belum habis terbakar.

Warga setempat termasuk memegang tradisi serupa. Rombongan pengantin biasa melempar duit koin atau ayam pas melintasi Watu Blorok sehingga selamat sampai tujuan. Selain itu, warga yang menggelar hajatan biasa mengirim sesaji ke Watu Blorok sehingga acaranya lancar dan keluarganya selamat.

“Bukannya musyrik, namun menjunjung nenek moyang. Keberadaan kita pas ini karena para pendahulu kita,” terangnya.

Mitos keangkeran Watu Blorok konon berkenaan sosok Roro Wilis dan Joko Welas. Yakni keturunan kesatria Majapahit yang dikutuk jadi batu. Kedua nama tersebut diyakini warga setempat jadi penghuni dua batu di jalur Mojokerto-Gresik tersebut.

Salah seorang warga yang dituakan di Dusun Pasinan Sauji (86) menjelaskan, Watu Blorok dikeramatkan sejak lebih kurang tahun 1956. Itu berawal berasal dari para petani yang gagal panen karena tanaman mereka terhadap masa itu dirusak babi hutan.

“Dulu hutan Watu Blorok ditanami sengon, bawahnya ditanami palawija, seperti jagung dan cabai. Saat itu warga Kupang menanam tanpa selamatan. Tanamannya dirusak babi hutan. Setelah kenduri di Watu Blorok, hasil panennya bagus,” jelasnya.

Tradisi kenduri di Watu Blorok, kata Sauji, ditinggalkan warga sejak lebih kurang tahun 1965. Hingga kini tidak tersedia persoalan betul-betul yang berjalan terhadap tanaman para petani lokal. Namun, sebagian tradisi tetap dilakukan warga sampai pas ini.

“Pengendara terkecuali serampangan dapat kecelakaan. Makanya banyak yang sangat percaya terkecuali melintas membunyikan klakson, tersedia termasuk yang menaburkan kembang. Saat hajatan termasuk mengirim sesaji ke Watu Blorok,” tegas kakek 4 cucu ini.

Kepala Desa Kupang Andridi menambahkan, kini tinggal sebagian tradisi saja yang dipertahankan warganya. Yaitu membunyikan klakson pas melintas dan rombongan pengantin menyingkirkan duit koin dan ayam di Watu Blorok sehingga selamat sampai tujuan.

“Kalau ritual, umumnya orang luar desa ini. Tujuannya macam-macam,” tandasnya.