Misteri Ladang Angker

Misteri Ladang Angker

Apa kalian pernah menyimak celah ventilasi kamar kalian pada waktu mendambakan pergi tidur? Atau celah ventilasi kamar mandi kalian pada waktu kalian sedang keramas? Atau apalagi celah yang terbentuk pada waktu gorden kamar kalian tertiup kipas angin atau angin dari AC?

Ada pengalaman menarik yang akan kuceritakan pada kalian.

Sekedar informasi, aku tinggal sendirian. Orangtuaku tinggal di luar kota, adikku ikut kedua orangtua dan kakakku telah menikah dan tinggal bersama istrinya. Aku menempati rumah yang lumayan besar, bersama tanah sebesar 165 m2. Kamar yang aku menempati mengahadap keluar, bersama dua buah jendela yang lumayan besar, satu menghadap ke kolam ikan yang kosong, dan satu ulang ke halaman.

Rumahku terhitung mempunyai dua buah pohon besar yaitu pohon Jambu dan mangga yang telah tidak berbuah lagi. Dikatakan bahwa pemilik rumah yang sebelumnya sangat menyukai pepohonan walau pada selanjutnya ia kewalahan bersama sampah daun yang setiap hari menumpuk dan mengganggu tetangga.

Kejadian ini bermula dikala aku pulang kerja. Pada waktu memasukkan sepeda motor ke halaman, aku mendengar nada layaknya benda jatuh dari pohon mangga yang tidak berbuah tersebut.
Pada waktu aku mengupayakan mencari apa yang jatuh, aku tidak menemukan apapun. Karena sering melihat film horror, aku tahu bahwa aku tidak harusnya menyaksikan ke atas, menjadi aku langsung masuk tanpa menyaksikan ke atas.

Karena kelelahan, aku langsung lupa bersama perihal tersebut. Setelah mandi dan makan, aku langsung merebahkan diri di kasurku. Tak lama kemudian, ibuku menelepon.

“Alex, kamu telah makan?”
“Sudah mah. Sekarang telah malam, mama belum tidur?”
“Belum. Mama sedang tidak sanggup tidur. Alex di rumah sama siapa?”
“Sendirian lah. Mana mungkin aku berani bawa perempuan kesini. Lagipula besok kan kerja, menjadi teman laki-laki pun tidak mungkin menginap.”
“Oh.. Itu nada apa? Kamu sedang main game?”
“Suara apa sih mah? Alex sedang tiduran, tidak pegang game apapun.”
“Suaranya terdengan layaknya orang sedang berbisik.”
“Jangan menakuti Alex ah. Sudah ya mah, Alex senang tidur.”
“Yeh, mama tidak menakuti kamu kok Lex. Ya sudah, biar besok tidak kesiangan.”
Kata-kata ibuku memang sedikit membuatku merinding. Tapi dikarenakan kelelahan, selanjutnya aku tertidur juga.

Malam berganti pagi dan gelap berganti terang. Malam itu tidak berjalan apa-apa.

Keesokan harinya, aku pulang tepat waktu pada pukul lima sore. Karena jarak rumah bersama kantor yang tidak sangat jauh, hanya 30 menit, menjadi aku telah sampai rumah pada waktu langit tetap cerah dan orang-orang tetap banyak yang berada di luar. Karena memang aku orang yang lumayan malas mandi, maka aku putuskan untuk makan malam dan menunda mandiku sampai waktu yang tidak aku tentukan. Setelah makan, tidak ada perihal aneh sampai tepat pada pukul sembilan, ibuku ulang menelepon.

“Alex, kamu telah makan?”
“Sudah mah. Mama sedang apa di sana?”
“Mama telah senang tidur. Alex kamu benar tidak bawa teman ke rumah?”
“Alex tidak bawa teman mah! Kenapa lagi? Dengar nada lagi?”
“Malah sekarang lebih kencang dari kemarin. Tapi tetap belum jelas. Biar mama rekam coba.”
“Hadeh telah lah. Itu pasti dikarenakan signal handphone mama yang jelek di sana. Sudah deh. Malam mah.”
“Iya malam Alex. Jangan tidur sangat malam ya.”
“Iya.”

Setelah telepon ditutup, aku memutuskan untuk mandi. Pada waktu keramas, aku merasa ada yang memperhatikanku. Setelah membilas semua shampoo yang menutupi muka dan rambutku, aku memberanikan diri untuk menyaksikan ke ventilasi.

Jelas tidak ada apa-apa di sana.

Setelah selesai mandi dan pakai busana tidur, aku langsung menuju ke kamar untuk tidur.

Malam berganti pagi dan gelap berganti terang.
Pada waktu bangun, aku merasa sangat kesakitan di bagian pergelangan tanganku. Terasa layaknya benda berat menindih tanganku.
Hari itu aku selamanya masuk ke kantor dan bekerja layaknya biasanya.
Malam itu aku sanggup merasa lumayan tenang dikarenakan besok adalah hari sabtu dan aku sanggup terbangun semalaman untuk bermain game dan mengobrol bersama teman-temanku secara online.

Setelah sampai rumah, aku langsung mandi dan makan malam lantas menyalakan komputerku untuk bermain game.
Fyi, meja komputerku menghadap ke jendela yang menghadap ke halaman. Jadi pada waktu aku bermain komputer, aku akan membelakangi jendela tersebut.

Malam itu, aku bermain bersama teman-temanku layaknya biasa. Sebut saja mereka Franken, Juanda, Rizaldi, dan Stephen. Kami semua pakai keliru satu aplikasi untuk laksanakan video call. Itu telah menjadi formalitas kita sebelum akan bermain game.
Pada waktu semua telah online, ada keanehan yang berjalan pada komputerku. Berikut obrolan kita malam itu.

Rizaldi: Alex, Kok aku tidak sanggup melihatmu sih? Webcam-mu lupa dinyalakan kah?
Franken: Itu dikarenakan Alex itu bodoh menjadi dia tidak tahu cara pakai webcam.
Juanda: Memang Alex ini payah. Pantas saja kuliahnya selesai pada waktu telah semester 14! Hahaha…
Alex: Hei, kalian jangan bercanda yang macam-macam! Aku telah menyalakan webcam dan aku sanggup menyaksikan kalian.
Stephen: Tapi kita tidak sanggup menyaksikan kamu Alex!
Alex: Coba screenshot komputer kalian. Aku senang menyaksikan hitam bagaimana sih..
Rizaldi: Eh tunggu, itu layarmu telah menya- WHAT THE F**K ALEX!
Juanda: ALEX KAMU JANGAN BERCANDA BEGITU!
Franken: KAMU TIDAK LUCU ALEX SUMPAH!
Stephen: JANGAN TAKUTI KAMI BEGITU DONG ALEX!
Alex: HEI GUYS, RELAX LAH! MEMANG ADA APA!
Juanda: ITU DIBELAKANGMU! DI SELA-SELA JENDELA!
Alex: Huh?

Makhluk itu mengintip dari sela-sela jendela.

Makhluk itu muncul menyerupai orang, tapi bersama mata, hidung, dan mulut yang mengeluarkan darah. Mulutnya dihiasi senyuman lebar sambil menganga, senyuman yang sangat lebar, layaknya dari telinga kiri, sampai ke telinga kanan.
Aku terpaku waktu menyaksikan makhluk itu.
Samar-samar aku mendengar nada dari makhluk tersebut.

“Akhirnya kamu menyaksikan ke jendela…”
Setelah makhluk aneh itu menyatakan hal tersebut, aku langsung mengupayakan lari tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhku tertimpa sesuatu.
Makhluk selanjutnya berada tepat di atas tubuhku, bersama wajahnya yang dekat sekali bersama wajahku.

“Gantikan aku…”

Setelah itu semuanya gelap.

“Maaf pak, boleh tanya, apa benar rumah ini senang dijual bersama harga yang sangat murah?”
“Iya betul dik. Rumah ini senang dijual bersama sangat murah. Tapi bapak rekomendasikan lebih baik adik urungkan niat adik untuk membeli rumah ini.”
“Memangnya kenapa pak? Rumah ini bagus. Ada kolamnya juga.”
“Bapak akan berikan kamu sebuah foto yang diambil sekitar setahun yang lantas dan rekaman telepon pada penghuni rumah yang pernah bersama ibunya yang berada di luar kota.”
“Lho? Bapak kok sanggup mempunyai rekaman telepon pada si penghuni rumah yang lama bersama ibunya?”
“Ini adalah keinginan dari ibunya penghuni rumah yang dahulu. Supaya tidak ada ulang orang yang menjadi korban. Ibunya sekarang telah tidak tinggal di sini lagi. Rumah ini bersikeras dijual oleh ayahnya si penghuni yang dahulu dikarenakan ayahnya tidak yakin hal-hal mistis layaknya ini. Padahal telah tahu ada buktinya.”

Berikut adalah obrolan yang ada di telepon. Meskipun terdengar samar-samar, aku sanggup mendengar nada bisikan bersama nada yang sangat mengerikan.

“Alex, kamu telah makan?”
“Lihat ke Jendela….”
“Sudah mah. Mama sedang apa di sana?”
“Ketika kamu melihatku, kamu akan menggantikanku di sini…”
“Mama telah senang tidur. Alex kamu benar tidak bawa teman ke rumah?”
“Alex tidak bawa teman mah? Kenapa lagi? Dengar nada lagi?”
“Sebagai penunggu rumah ini…”
“Malah sekarang lebih kencang dari kemarin. Tapi tetap belum jelas. Biar mama rekam coba.”
“Hadeh telah lah. Itu pasti dikarenakan signal handphone mama yang jelek disana. Sudah deh. Malam mah.”
“Kekekekekkekekekek…”
“Iya malam Alex. Jangan tidur sangat malam ya.”
“Iya.”

Di di dalam foto selanjutnya terdapat foto rumah ini, bersama bayangan seorang manusia, mungkin bukan manusia, yang mengintip dari jendela, bersama darah yang mengucur dari mata, hidung, dan mulutnya. Senyumnya yang sinis dan lebar menghiasi muka makhluk itu.

-End-