Makam Kanjeng Jimat Pacitan: Tempat Cari Ketenangan hingga Area Olahraga

Makam Kanjeng Jimat Pacitan: Tempat Cari Ketenangan hingga Area Olahraga

Jalan menanjak menjadi rute awal menuju makam Kanjeng Jimat. Makam yang sering didatangi pezirah hingga dari mancanegara.
Dalam 400 meter pertama, jalur berlapis paving. Di kanan kirinya terkandung kompleks pemakaman umum. Selanjutnya, tersedia 180 anak tangga sebelum akan mencapai puncak Giri Sampurno, tempat bersemayam jasad Kanjeng Jimat, tokoh yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Pacitan.

Setibanya di puncak, sebuah bangunan berbentuk tempat tinggal langsung terlihat. Ada pintu utama yang tetap terkunci. Di sebelah kirinya tersedia sebuah musala lengkap dengan tempat wudhu.

detikcom sengaja berjalan kaki dari gapura yang berada di pinggir jalur raya. Tentu saja rasa letih dan cucuran keringat mewarnai perjalanan melewati rute menanjak itu. Lumayan jauh, lebih kurang 300 meter.

Tiba di pelataran makam, rasa letih mendadak sirna. Semilir angin di antara rindang pepohonan menyebabkan tubuh ulang bugar. Penat langsung tergantikan dengan suasana damai dan khidmat.

Begitulah web site Makam Kanjeng Jimat di Dusun Kebonredi, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kota Pacitan. Tempat nan teduh di tempat setinggi 80 mdpl.

“Pada hari biasa pun banyak peziarah yang datang. Mereka dari mana-mana. Bukan hanya dari Indonesia tetapi terhitung mancanegara,” ucap Agus Jatmiko (50) juru kunci makam kepada detikcom, Minggu (3/1/2021).

Saat paling ramai kunjungan, lanjut Agus, adalah menjelang Ramadhan. Berikutnya adalah hari-hari usai Idul Fitri. Adapun kunjungan rutin yang sering dijalankan peziarah biasanya terhadap malam Jumat.

Umumnya, lanjut Agus, pengunjung memiliki keterkaitan sejarah dengan Kabupaten Pacitan. Sebagian dari mereka terhitung mengaku tetap memiliki rumpun keluarga dengan almarhum. Selebihnya sesungguhnya sengaja berkunjung untuk berziarah.

“Saya dulu memandu pengunjung dari Jepang. Ada terhitung yang berasal dari Spanyol dan Australia,” tutur Agus yang menjadi penerus ayahnya menjadi juru kunci.

Beberapa kali mendatangi web site sejarah tersebut, detikcom dulu berjumpa lebih dari satu peziarah dari sejumlah lokasi di Tanah Air. Seperti Jakarta, Bandung, Panarukan, lebih-lebih tersedia pula peziarah asal Pulau Dewata.

Di antara mereka tersedia yang berkunjung rombongan dengan kendaraan roda empat. Ada pula yang berkunjung dalam jumlah kecil. Mereka mengendarai sepeda motor dan diparkir di pelataran bawah.

“Saya berangkat dari Bali lantas ke Gresik dan Pekalongan. Insyaallah Pacitan ini menjadi obyek terakhir perjalanan,” ucap seorang pria berbaju batik dan berkopiah yang mengaku warga Gianyar, Bali.

Memang tak sanggup dimungkiri keberadaan makam Kanjeng Jimat menjadi magnet bagi peziarah. Peran penting almarhum dalam sejarah Islam di Pacitan menempatkannya menjadi tokoh yang terlalu disegani.

Tak heran, banyak pengunjung berdatangan. Mulai sekadar napak tilas, berziarah, berdoa, hingga ngalap berkah. Medan menuju lokasi yang lumayan menantang terhitung menjadi rute olah raga bagi warga setempat.

Tak hanya bagi mereka yang hendak berziarah, tempat itu terhitung menjadi pilihan saat seseorang inginkan menghindari diri dari hiruk pikuk kehidupan modern. Suasana sepi dan juga udara yang sejuk menyebabkan pikiran tenang. Belum ulang persentase oksigen di puncak bukit melimpah menyebabkan tubuh merasa lebih bugar.

“Waktu tetap sekolah dulu aku rutin naik ke makam Eyang (Kanjeng Jimat). Biasanya sambil bawa buku untuk belajar,” kenang Sri Wahyu Nurhadi Kusumo, warga Pacitan yang kini bermukim di Ibu Kota AS, Washington DC.

Kala itu, lanjut pria yang karib disapa NHK, dirinya tetap duduk di bangku SMP. Tanpa tersedia yang menyuruh NHK kecil mendadak inginkan berkunjung ke kompleks makam tersebut. Merasa sanggup belajar dengan tenang di tempat itu selanjutnya berkunjung ke makam menjadi kebiasaan.

Anehnya, meski tanpa mengajak kawan NHK tak merasa takut. Padahal saat itu suasana alam lebih kurang makam tetap dipenuhi pepohonan lebat. Jalan menuju lokasi terhitung tetap berbentuk tanah yang licin saat musim hujan.

“Di sana bawaannya tenang. Jadi kalau dipakai belajar sesuai banget. Biasanya pulang kulit belang-belang bekas gigitan nyamuk,” ucapnya seraya menyebutkan kalau pelajaran favoritnya di sekolah adalah Matematika dan Bahasa Inggris.

Hal senada disampaikan Bupati Pacitan, Indartato. Pimpinan tempat yang menjabat dua periode itu mengaku dulunya sering menggunakan saat naik ke kawasan makam. Kegiatan itu rutin dijalankan tiap Jumat pagi untuk berolah raga.

Aktivitas mingguan itu, lanjut Pak In, menjadi normalitas saat dirinya tetap menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Letak kantor di Jalan Dr Sutomo yang berdekatan dengan gapura masuk makam memudahkan akses menuju ke puncak.

“Kadang aku sendiri naik, kadang terhitung ditemani staf,” tuturnya kepada detikcom.

Sejak th. 2010 Indartato resmi menjabat Bupati Pacitan. Jabatan serupa yang dulu disandang Kanjeng Jimat. Entah kebetulan atau tidak, berawal dari normalitas berkunjung ke makam bupati kini Indartato mendapat amanah memimpin wilayah.

Hanya saja intensitas Pak In mendatangi makam Kanjeng Jimat tak sesering dulu. Padatnya kegiatan menjadi alasan berkurangnya jadwal olahraga. Momen tahunan yang tak terlewatkan adalah ziarah menjelang Hari Jadi Pacitan tiap Bulan Februari.

“Ziarah makam (Kanjeng Jimat) sesungguhnya merupakan agenda rutin tiap Hari Jadi. Itu merupakan wujud bakti dan penghormatan kami atas jasa para leluhur,” ucapnya.

Seperti diketahui, Kanjeng Jimat merupakan Bupati ketiga Pacitan. Dia dilantik mengambil alih Setroketipo, bupati sebelumnya. Gelar Jogokaryo pun menempel sepanjang sang tokoh memangku jabatan tertinggi di belahan pesisir selatan Pulau Jawa.

Kanjeng Jimat terhitung dikenal sebagai penyebar agama Islam yang berasal dari tempat Arjowinangun. Sebuah perkampungan di timur Sungai Grindulu yang belakangan berdiri Pondok Pesantren Nahdhatus Suban.