Legenda Watu Blorok Jadi Cerita Pertunjukan Ludruk Sarat Pesan Moral

Legenda Watu Blorok Jadi Cerita Pertunjukan Ludruk Sarat Pesan Moral

Watu Blorok menginspirasi budayawan Mojokerto untuk mengangkat legendanya menjadi cerita di dalam pertunjukan kesenian ludruk. Cerita tentang asal usul batu yang dikeramatkan ini sarat pesan moral untuk para orang tua.
Salah seorang budayawan yang terinspirasi legenda Watu Blorok adalah Eko Edy Susanto alias Edy Karya (65). Kakek 6 cucu ini pemimpin Ludruk Karya Budaya. Kelompok kesenian ludruk berikut didirikan mendiang ayahnya, Kamari terhadap 29 Mei 51 th. silam.

“Saya mementaskan legenda Watu Blorok dikarenakan inginkan cerita-cerita rakyat menyebar ke seluruh masyarakat. Sehingga penduduk kami jelas bersama lingkungan di sekitarnya,” kata Edy kepada detikcom di rumahnya, Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Jumat (18/12/2020).

Pensiunan PNS ini menyatakan legenda Watu Blorok pertama kali diangkat di dalam pertunjukkan Ludruk Karya Budaya di Desa Talun, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto terhadap 2010. Cerita yang sama lantas dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Taman Krida Budaya Malang, serta di keliru satu stasiun televisi nasional.

“Pagelarannya selama 4 jam. Saya melihatkan 70 personel. Yaitu 45 orang pemeran cerita, tenaga tata suara, panggung, pencahayaan dan tata busana,” terang Edy.

Edy mengaku merangkai cerita legenda Watu Blorok dari bermacam sumber. Antara lain dari hasil berdiskusi bersama para pemerhati histori dan tulisan sejumlah akademisi lokal. Jalan cerita versi Edy ternyata tidak jauh berbeda bersama Iwan Abdillah, pemerhati histori lokal yang termasuk mantan Camat Jetis.

“Ada kesamaan mengenai cerita Watu Blorok. Intinya Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya menugaskan kepala prajurit wilayah utara Sungai Brantas, Wiro Bastam. Saat itu permaisuri mengidam inginkan makan hatinya kijang kencana, kijang yang warnanya kuning keemasan. Desas desusnya kijang itu tersedia di alas (hutan) Mojoroto,” tuturnya.

Wiro Bastam lantas berburu kijang kencana di Hutan Mojoroto yang kini dikenal bersama sebutan Alas Watu Blorok. Dia dibekali raja bersama tombak Kiai Gobang, keliru satu pusaka Kerajaan Majapahit.

Melihat hewan buruannya di depan mata, Wiro pun melemparkan tombak berikut ke kijang kencana. Namun, kijang itu kabur bersama mata tombak yang menancap di tubuhnya.

“Karena menghilangkan pusaka kerajaan, dia tak berani balik ke keraton. Hanya prajuritnya yang disuruh kembali. Dia melacak mata tombak Kiai Gobang di Alas Mojoroto,” jelas Edy.

Dalam upayanya melacak mata tombak Kiai Gobang, lanjut Edy, Wiro Bastam dirampok saat mengupayakan menyeberangi Kali (Sungai) Lamong, yakni sungai yang membelah Mojokerto bersama Gresik. Dia hanyut di sungai berikut sesudah kalah bertarung bersama gerombolan perampok.

Wiro Bastam diselamatkan seorang gadis desa sesudah hanyut sebagian kilometer di wilayah Balongpanggang, Gresik. Kesatria Majapahit itu lantas menikahi wanita berikut dan menetap. Buah pernikahannya itu, dia mempunyai dua anak yakni putra pertama Joko Welas dan putri kedua Roro Wilis.

“Kedua anaknya dia gembleng menjadi sakti. Selepas remaja, mereka inginkan mengabdi di Majapahit sebagai prajurit. Namun, Wiro Bastam tidak berani mengantarkan anaknya ke Majapahit dikarenakan belum menemukan tombak pusaka kerajaan yang dia hilangkan,” ungkapnya.

Joko Welas dan Roro Wilis memutuskan menopang ayahnya untuk menemukan tombak Kiai Gobang di Hutan Mojoroto. Sebelum berangkat, mereka diwanti-wanti ayahnya agar tidak bertengkar selama melacak pusaka kerajaan. Karena keduanya belum sangat dewasa.

Sampai di Hutan Mojoroto, persoalan terjadi. Kala itu Roro Wilis inginkan menopang seorang nenek yang terjerat di di dalam sumur. Namun, niat baiknya dihalangi Joko Welas. Karena sang kakak jelas sosok nenek itu jelmaan jin yang inginkan mencelakakan adiknya.

“Roro Wilis bersikeras menopang nenek itu. Dia ditarik si nenek sampai turut tercebur ke sumur. Kemudian nenek itu lenyap. Roro Wilis pun ditolong kakaknya bersama ditarik manfaatkan tongkat kayu,” tutur Edy.

Keluar dari sumur tersebut, kulit sekujur tubuh Roro Wilis menjadi berbintik hitam putih atau menjadi blorok di dalam Bahasa Jawa. Sifat keras kepalanya sebabkan Joko Welas marah. Adik kakak itu pun bertarung dan saling beradu kesaktian.

Perkelahian mereka sebabkan petir bergemuruh. Itu menjadi pertanda bagi Wiro Bastam agar dia melacak kedua anaknya berikut di Hutan Mojoroto. Benar saja, Wiro menemukan Joko Welas dan Roro Wilis sedang bertarung sengit.

“Saat Joko Welas dan Roro Wilis saling menendang, nada petir menggelegar, mereka terpental sejauh 10 meter. Wiro Bastam menanyakan kepada mereka mengapa bertikai. Karena risau bersama bapaknya, mereka diam saja. Wiro Bastam lantas menyebut kedua anaknya itu seperti batu dikarenakan diam saja saat ditanya sampai tiga kali,” jelas Edy.

Seketika Joko Welas dan Roro Wilis berubah menjadi batu. Konon Roro Wilis menjadi Watu Blorok. Yaitu batu berdiameter 1 meter di pinggir jalan Mojokerto-Gresik. Tepatnya sekitar 100 meter dari permukiman penduduk Dusun Pasinan, Desa Kupang, Kecamatan Jetis.

Sedangkan kakak kandungnya konon menjadi batu berukuran lebih kecil di wilayah yang sama. Posisi kedua batu berikut sejajar hanya dipisahkan jalan raya.

“Pesan moral cerita rakyat ini, menjadi orang tua jangan sembrono mengumbar kata-kata. Karena mampu mempunyai risiko terhadap dirinya sendiri maupun keluarganya,” tandas Edy.