Kisah Ular Besar Penunggu Rawa Pening

Sebagian sampan berbanjar di pinggir pematang yang merelaikan rawa dengan kebun tanpa antah. Antah di kebun itu telah dipanen sebagian durasi kemudian, mencadangkan tanah kosong dengan kubangan air. Rawa Pening, julukan tempat itu.

Puluhan wisatawan menikmati petang di Rawa Pening. Beberapa menikmati kuliner di restoran terapung di posisi itu. Beberapa yang lain silih mengambil gambar di sebagian spot gambar, tercantum berswafoto dengan kerangka balik yang digemari.

Di restoran terapung, belasan pendopo berdimensi kecil berbanjar di atas sejenis situ. Sebagian di antara lain diisi oleh kaum wisatawan. Yang lain, sedang kosong. Di tengah situ, wisatawan lain pula menikmati kuliner di gedung yang lebih besar.

2 perahu berupa angsa maju ayal senada dengan kayuhan penumpangnya. Mereka berkelana di perbatasan situ ciptaan itu sampai ke tengah.

Puluhan m dari zona restoran terapung, seseorang bunda belia bersama buah hatinya menapaki pematang. Mereka berjalan hening mencari kijing, sampai ke tengah zona sisa pesawahan, mengarah pinggir situ Rawa Pening.

Di kejauhan, 4 pemancing nongkrong di pinggir Rawa Pening. Berawan yang bergumpal tebal, melayang menemani keempatnya bercengkrama sembari menunggu ikan menyantap korban.

Pada bagian lain zona itu, belasan gerai kelontong teratur apik. Pemiliknya merupakan masyarakat dekat. Semacam seperti gerai kelontong lain, mereka sediakan bermacam benda, mulai dari rokok, santapan enteng, sampai perkakas mandi, apalagi durian bila musimnya datang.

Babad Anak Gudik serta Ular Besar

Beberapa besar dari mereka, beriktikad ataupun mininal mengenali babad Terkini Klinting, semacam yang diceritakan oleh salah seseorang owner gerai, Yami 43 tahun.

Yami menggambarkan babad mengenai terjadinya Rawa Pening, dengan figur penting seseorang anak yang ialah jejadian dari ular besar pengawal Rawa Pening.

rawa pening3Salah satu spot gambar di restoran terapung Kampoeng Rawa, Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020.

Terkini Klinting, tutur Yami, ialah anak yang mempunyai penyakit kulit. Kulitnya bersisik serta gudiken sejenis gudik, alhasil banyak masyarakat yang tidak ingin berhubungan dengannya.

Keluarga Terkini Klinting merupakan keluarga yang tidak sanggup. Perihal itu membuat Terkini Klinting kerap mengemis ataupun memohon nasi pada masyarakat buat dikonsumsi.

” Mriki niku awale deso, tetapi njuk klelep mergo wonten anak kecil sing nyuwun sekul tetapi mboten diparingi.( Di mari awal mulanya merupakan suatu dusun, tetapi karam sebab terdapat anak kecil yang memohon nasi tetapi tidak dikasih),” tutur Yami Sabtu 4 Januari 2020.

Sesuatu durasi, dikala Terkini Klinting memohon santapan pada seseorang masyarakat, ia dihina. Hinaan itu membuat Terkini Klinting marah. Terkini Klinting juga kembali ke rumahnya, serta melapor pada ibunya.

Tetapi ibunya memohon Terkini Klinting buat menahan. Cuma saja, Terkini Klinting merasa tidak dapat lagi menahan mengalami banyak orang yang sombong.

Semacam rumah- rumah keluarga Jawa lain pada era dulu, di rumah Terkini Klinting pula ada lesung. Umumnya lesung dipakai buat menumbuk antah seusai panen. Terkini Klinting mendekati ibunya, setelah itu mengamanatkan, supaya ibunya lekas naik ke atas lesung bila esok mengikuti suara bergemuruh.

Kemudian, Terkini Klinting kembali pergi. Ia menemui masyarakat dusun sembari bawa lidi. Ia menantang mereka buat berupaya mencabut lidi yang ditancapkannya di tanah.

” Kathah sing tumut, wong- wong podo ngece, jare kuwi mung sodo, harus iso dicabut, opo meneh sing nancepke mung cah kecil gudiken.( Banyak yang turut berupaya, banyak orang pada mengejak, tuturnya itu hanya lidi, tentu dapat dicabut, terlebih yang menikamkan hanya anak kecil yang penuh gudik),” urainya.

Ceritanya terhambat dikala seseorang perempuan berhijab bertanya harga suatu durian. Yami dengan ramah menarangkan harga tiap- tiap durian berdimensi lumayan besar. Sehabis hal jual beli berakhir, Yami meneruskan ceritanya.

Sebagian masyarakat bergantian buat mencabut lidi yang ditancapkan oleh Terkini Klinting, tetapi tidak satu juga dari mereka yang sanggup mencabutnya. Kesimpulannya Terkini Klinting mencabut sendiri lidi yang ditancapkannya.

Dari lubang sisa tancapan lidi itu setelah itu pergi air yang terus menjadi lama terus menjadi kencang, serta mengaramkan dusun itu. Semua penghuninya karam di dalam situ, melainkan ibunya yang naik ke atas lesung serta berperan semacam perahu.

Cerita yang mendekati pula dikisahkan oleh seseorang masyarakat yang lain, Totok. Cuma saja baginya, wujud yang aman dikala Terkini Klinting mencabut lidi, merupakan janda berumur yang membagikan santapan pada Terkini Klinting dikala ia memohon pada masyarakat dusun.

Bagi ceritanya, Terkini Klinting ialah anak dari seseorang pertapa, yang dikala lahir berbentuk ular. Dikala itu, masyarakat dusun akan melakukan acara, namun mereka tidak menciptakan seekor fauna juga. Kesimpulannya mereka menciptakan dragon titisan Terkini Klinting, serta disembelih.

rawa pening2Seorang turis melompat dari sampan yang terdapat di pinggir Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020.

Seketika, Terkini Klinting yang telah berbentuk anak kecil, tiba serta memohon santapan, namun masyarakat tidak memberinya santapan serta malah menghinanya. Cuma terdapat seseorang janda berumur yang memberinya santapan. Janda seperti itu yang setelah itu aman.

Kerap Merasakan Kedatangan Ular Besar di Danau

Sampai dikala ini, dongeng mengenai ular besar titisan Terkini Klinting itu sedang tersebar di golongan masyarakat setempat. Tutur Yami, tidak seluruh orang dapat memandang ular itu dikala ia timbul.

Baginya, cuma banyak orang yang dikehendaki saja yang dapat melihatnya. Tercantum seseorang nelayan yang lagi mencari ikan di Rawa Pening, sebagian tahun kemudian.

Yami mengatakan, dikala nelayan itu lagi mencari ikan, seketika ia memandang ular besar pengawal situ. Ular itu beranjak lama- lama. Di belakangnya, persisnya di dekat akhir, banyak udang serta ikan yang mengerumuni.

” Menawi njedul ngaten niku, harus kathah le angsal ulam napa urang, soale ulam kaliyan urang remen.( Jika ia timbul, tentu nelayan banyak memperoleh ikan serta udang, sebab ikan serta udang senang pada ular itu),” lanjutnya.

Bagi keyakinan masyarakat setempat, ikan serta udang menggemari cairan pekat serta aroma yang dikeluarkan oleh ular besar itu. Alhasil udang serta ikan yang didapat nelayan pula hendak mempunyai aroma amis semacam aroma ular itu.

” Angsal kathah tetapi ambune langu, Abang.( Dapatnya banyak tetapi aromanya amis, Abang),” tegasnya.

Walaupun berbentuk ular besar, tetapi titisan Terkini Klinting itu tidak memangsa orang. Tutur Yami, bila ular itu memangsa orang, dapat ditentukan semua masyarakat di sana telah habis dimangsa.

Ular itu disebutnya sedang kerap timbul di Rawa Pening, apalagi saat sebelum kemunculannya, terdapat isyarat khusus, misalnya air situ yang sedikit beriak serta atmosfer yang jadi lebih hening.

Panorama alam Alam yang Bagus serta Atmosfer Tenang

Terbebas dari babad serta dongeng mengenai Terkini Klinting dan ular dragon raksasa itu, Rawa Pening jadi salah satu destinasi darmawisata yang menarik buat didatangi.

Panorama alam alam di dekat Rawa Pening semacam gambar yang amat bagus. Terlebih dikala antah di sawah- sawah di pinggir rawa lagi berkembang hijau. Dari kejauhan nampak semacam karpet hijau yang terhampar di kaki Gunung Telomoyo.

rawa pening4Bangunan kecil berupa sejenis pendopo berbanjar di restoran terapung Kampoeng Rawa, Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020.

Tidak tidak sering para nelayan yang tidak mencari ikan di tengah situ, cuma menangkap di perbatasan, sedangkan sahabatnya menarik sampan di kejauhan. Arena tempat main anak serta spot gambar di sekelilingnya, menaikkan energi raih Rawa Pening.

Keelokan panorama alam Rawa Pening dibenarkan oleh seseorang wisatawan yang berawal dari Yogyakarta, Femi. Baginya, keelokan panorama alam di Rawa Pening susah ditemui di tempat lain.

” Pemandangannya baik, Abang. Sulit nemuin yang seperti gitu di tempat lain. Terdapat rawa, setelah itu gunung, nelayan yang mencari ikan serta lain- lain,” cakap wanita yang mempunyai kotoran laler di atas bibir ini.

Femi pula berterus terang terpikat dengan babad yang terdapat mengenai terjadinya Rawa Pening. Cerita mengenai Terkini Klinting, sang anak kecil yang kurapan serta babad ular besar pengawal di tempat itu.