Kisah Misteri Rumah Tusuk Sate

Aku tidaklah ideal perempuan yang pemberani tetapi sering- kali aku sendiri kurang memeluk dongeng yang kerap tersebar di warga. Salah satunya merupakan dongeng beraroma misterius mengenai rumah tikam sate. Tutur banyak orang rumah tikam sate merupakan rumah yang kokoh dengan aura misterius. Tidak hanya misterius, kabarnya bila suatu keluarga bermukim di rumah tikam sate pula rawan kejatuhan kecelakaan. Untuk aku keberhasilan serta kecelakaan seorang sebab memanglah telah suratan.

Sampai kesimpulannya aku juga sedikit untuk sedikit mau menyakini pertanyaan dongeng ini. Sekerat narasi horor yang diceritakan oleh abang aku mengenai rumah tikam sate membuat bulu gitok aku merinding.

Cerita ini berasal dari pengalaman abang aku yang bermukim di angka Kota Denpasar, Bali. Ucap saja abang aku ini dengan Felis. Kak Felis memiliki 3 orang anak, sang anak pertama serta sang sebandung. Tiap- tiap berumur 12 tahun serta 5 tahun. Bertepatan suaminya merupakan karyawan imigrasi yang kerap berpindah- pindah kota biro. Betul cocok dengan SK dari biro imigrasi pusat gitu. Serta bertepatan kala SK turun, suaminya dipindah tugaskan ke Denpasar.

Kesimpulannya pendek narasi Kak Felis sekeluarga diboyong suaminya ke Denpasar. Sebab memperkirakan era biro suaminya di kota itu, kesimpulannya Kak Felis menyudahi buat menaiki salah satu rumah biro kementrian hukum serta HAM yang terdapat di angka Gatot Subroto, Denpasar. Bertepatan rumah dinasnya juga tidak sangat jauh dari rumah mertuanya. Sayangnya dalam lingkungan rumah biro cuma tertinggal suatu rumah dengan posisi tikam sate.

Luang ragu buat menaiki rumah biro itu, kesimpulannya atas hasil rembukan bersama suaminya, Kak Felis juga akur menaiki rumah tikam sate itu. Walaupun sesungguhnya beliau sedikit takut pertanyaan dongeng tikam sate, tetapi apa bisa bikin. Dengan seberinda batin, Kak Felis berupaya memastikan diri kalau tidak hendak terdapat perihal kurang baik yang terjalin sepanjang beliau serta keluarganya menaiki rumah itu.

Sesungguhnya rumah tikam sate ini mempunyai laman serta dimensi yang cukup besar. Tetapi sebab telah lumayan lama tidak dihuni, situasi rumah dikala itu terhitung tidak terpelihara. Belukar semak berkembang produktif di laman rumah. Kondisi langit- langit hampir jebol serta nampak berlubang di situ mari. Tetapi untuk Kak Felis, bagian rumah yang sangat membuat bulu kuduknya meremang merupakan laman balik rumah.

Baginya, laman balik rumah itu diadakan bagaikan tanah buat menjemur busana. Cuma saja sebab memanglah lama tidak dihuni, atmosfer laman balik terasa samun nama lain horor. Sebab sedemikian itu beliau menjamah bagian balik rumah, yang nampak merupakan tumbuhan kamboja yang berkembang produktif dengan bunga- bunga kamboja yang berjatuhan di bawahnya. Aroma kamboja khas makam melatis sampai ke bagian dapur.

Sehabis rumah direnovasi, Kak Felis sekeluarga bermukim di rumah tikam sate itu. Kak Felis sekeluarga merupakan pengikut agama Hindu. Oleh karena itu beliau senantiasa teratur meletakkan sesaji di sebagian titik yang dianggapnya terkesan berhantu buat mengusir para butha kala( gelar buat arwah kejam untuk warga Bali) dan mengharapkan ketentraman keluarganya. Buat menjauhi kecelakaan, Kak Felis memasang kaca kecil di bagian asbes rumah semacam anjuran sahabatnya.

Tetapi apes. Kala hari Kamis, persisnya dikala malam Jumat, gadis sulungnya( ucap saja ia Nina) hadapi peristiwa yang bisa jadi tidak mau dialami oleh siapapun. Tercantum oleh dirinya sendiri.

Malam itu, suaminya kembali sedikit telanjur sebab lewat waktu bertugas. Terdapat berkas- berkas pengasuh paspor yang wajib dilengkapi malam itu pula. Kesimpulannya, sampai jam 10. 00 Waktu indonesia tengah(WITA) beliau bersama ketiga buah hatinya wajib melampaui malam sepi tanpa suaminya. Buat alihkan perasaan cemasnya sebab malam itu merupakan malam Jumat, Kak Felis mempersiapkan sebentuk Nina serta sang sebandung buat besok pagi. Beliau juga menyetrika sebentuk ketiganya di ruang tengah.

Bertepatan dikala itu Nina serta sang sebandung pula turut terkumpul menemani Kak Felis yang lagi padat jadwal menyetrika pakaian sebentuk. Awal mula atmosfer nonton televisi mereka sedang serius saja. Sampai kesimpulannya, Nina nyeletuk Ma, Biyung terdapat njemur kain putih di laman balik?. Enggak tuh. Kan udah Biyung setrika seluruh bajumu serupa pakaian adik- adikmu. Jawab Kak Felis.

Demikian ini, posisi ruang tengah berdampingan dengan dapur serta berdekatan dengan pintu mengarah laman balik. Di dapur, di bagian bilik atas dipasangi ventilasi- ventilasi kaca yang mengarah langsung ke laman balik. Alhasil siapapun yang terletak di ruang tengah hendak dapat memandang laman balik di melalui jendela kaca di bilik atas dapur.

Memang mengapa? pertanyaan Kak Felis pada Nina. Enggak Ma, tidak papa. Jawab Nina segera masuk kamar. Sebab terdorong rasa penasaran, kesimpulannya Kak Felis berdiri di posisi awal Nina yang bersandar serong mengarah dapur. Serta Kak Felis kesimpulannya mengenali karena Nina yang segera merambah kamar.

Seseorang perempuan menawan bersandar menggelantung di atas tumbuhan kamboja dengan rambut jauh terburai, lagi menggerenyotkan bibir ke arahnya. Betul Tuhan! Dasar, mari kita masuk ke kamar serupa Kak Nina. Setelah itu Kak Felis pula segera masuk kamar. Beliau menutup rapat pintu kamar serta meniggalkan setrika dan televisinya yang sedang menyala. Sebagian menit setelah itu beliau mengesun bau wewangian tidak lazim.(