Kisah Misteri Jembatan Panus Depok 2020

Kisah Misteri Jembatan Panus Depok 2020

malam yang dingin nampaknya sudah tidak ulang dapat mengalihkan perhatian saya berasal dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bersua Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus merupakan pria Belanda yang digambarkan miliki tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.

Sambil berbincang dengan kami, matanya tetap melihat tajam ke arah sebuah pohon tinggi di sisi jembatan, daerah Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus mampir dengan dengan anjing kesayangnya. Furi pun tidak sendiri, di lengan kirinya boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, setia menemani dia.

“Terima kasih,” kata Furi menyita nafas, lantas melanjutkan “Dia mengucapkan terima kasih gara-gara selanjutnya tersedia yang mampir untuk memberikan cerita yang real perihal dia. Enggak mengakibatkan keributan, supaya energi negatif lain menyingkir,” ucap Furi tanpa melepas tatapannya.

Furi ulang menjelaskan, anjing putih kesayangan Stefanus itu menjemput ajal 6 jam setelah Stefanus ditembak, tapi penyebab kematiannya tidak sama dengan Stefanus. Furi pun diam sejenak. “Namanya Heli anjing putihnya,” memahami Furi.

Tapi, yang mengakibatkan Stefanus sendiri bingung adalah kenapa istrinya turut bunuh diri dua hari setelah dia meninggal. Meski begitu, dia tidak menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus yakin bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang harus mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.

Tapi, lanjut Furi, Stefanus mengungkap kekesalannya pada orang-orang yang sering menyingkirkan kelapa, gara-gara itu selanjutnya jadi energi yang negatif. Saya tak ingat sejak kapan menahan nafas, saya sangat fokus mendengar cerita Furi, yang tak dulu melepas pandangannya berasal dari arah pohon.

Tapi kalimat sesudah itu ulang memaksa saya menahan nafas. Furi bercerita bahwa tersedia moment mutilasi tujuh th. yang lantas tersedia yang dimutilasi dan dibuang di sini. Saya pun mengusahakan mengali-gali ingatan saya pada moment 7 th. lalu.

Ya, di 2012 memang sempat tersedia dua orang berbaju hitam menyingkirkan karung goni, berasal dari karung berikut menetes bercak darah yang tersisa di jalanan dan pagar jembatan. Memang pada selanjutnya polisi tidak dulu menemukan isikan karung berikut gara-gara hilang dibawa derasnya arus. Tapi, penelitian uji laboratorium perlihatkan bahwa bercak darah berikut adalah darah manusia.

Rasanya menginginkan saya nimbrung omongan berikut dan bertanya soal korban mutilasi tersebut. Tapi tenggorokan saya jadi tercekat, dan mengakibatkan saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak “warga” di situ tidak dulu menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.

Baca Juga: Sifat Selingkuh Keturunan berasal dari Orang Tua? Ini Jawaban Pakar

Lantas, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa harus saya bertanya, Furi nampaknya dapat membaca anggapan saya. Warga di sana adalah mereka yang meninggal selagi membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus, jembatan itu memang dibuat untuk penduduk Indonesia, hanya saja peralatan yang belum cukup mengakibatkan potensi kecelakaan kerja meningkat.

“Itu mengakibatkan banyak sekali rakyat yang meninggal gara-gara memikul barang sangat berat. Seperti ngambil batu, supaya leher hampir putus,” ucap Furi seperti mengulangi pesan Stefanus.

Bagimana tidak, jembatan berikut ternyata hanya dibuat berasal dari fasilitas putih telur dan tanah. Menitip duwit berkutang, menitip kata bertambah, kemungkinan inilah yang berjalan pada kisah jembatan Panus. Rumor yang beredar jadi pembangunan Jembatan Panus harus menumbalkan kepala.

Dengan tenang Furi pun terus mengisahkan alasan stefanus masih memelihara daerah ini, tidak lain gara-gara dia sangat berterima kasih pada rakyat zaman dulu yang sudah menunjang membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang menempel di Jembatan Panus ini seakan negatif gara-gara banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang selanjutnya mengotori jembatan.