Cerita Seram Orang Tua Tumbalkan Anak Buat Pesugihan

Cerita Seram Orang Tua Tumbalkan Anak Buat Pesugihan

“Ada mesti apa kemari?” bertanya seroang dukun.

Sepasang suami istri sedang berhadapan bersama seorang dukun di sebuah ruangan yang remang-remang penuh bersama bunga dan dupa. Pasangan tersebut mampir lantaran dambakan berharap tolong kepada dukun mengenai masalah ekonomi.

“Bisnis peternakan saya sedang terpuruk Mbah. Sedangkan, saya mesti membiayai anak bungsu saya yang baru saja masuk kuliah. Sementara anak sulung saya akan langsung menikah,” jelas sang suami.

“Hmm, kebutuhan yang tidak sedikit itu,” sahut dukun tersebut.
“Benar sekali Mbah. Maka dari itu, kita dambakan berharap tolong agar bisa beroleh duit secepat mungkin untuk cost kebutuhan itu semua,” kali ini sang istri menyahut.

“Hanya ada satucara untuk beroleh itu. Kalian mesti laksanakan pesugihan. Tapi syaratnya, kalian mesti memberikan tumbal bersifat janin berusia 7 bulan kepada setan yang akan besekutu bersama kalian setelah ini,” jelas dukun tersebut.
Pasangan tersebut terdiam sejenak, layaknya sedang menimbang-nimbang. Tak lama setelah itu, mereka lantas mengangguk, sinyal setuju bersama wejangan yang diberikan oleh sang dukun.

Beberapa minggu terakhir, usaha peternakan Pak Joyo laku keras. Tiba-tiba saja, banyak permohonan pasokan baik untuk daging ayam maupun telurnya. Kesempatan itu pasti amat disambut baik oleh Pak Joyo. Namanya rejeki tidak boleh ditolak.
Sandi, anak bungsu Pak Joyo bisa mendaftar ke universitas favoritnya gara-gara sang ayah mempunyai rejeki untuk membayar cost masuk. Kabar gembira lainnya termasuk mampir dari anak sulungnya, Risma, yang akan menikah bulan depan.

Singkat cerita, pernikahan itu berjalan mulus berkat rejeki yang didapat Pak Joyo. Pesta pernikahan digelar amat meriah. Kateringnya pun dipilih yang kualitasnya paling bagus. Risma termasuk senang sekali gara-gara bisa mengenakan gaun pengantin yang diidamkannya selama ini.

Sebulan setelah pesta digelar, Risma dikabarkan hamil. Ia sebenarnya langsung dambakan mempunyai anak dari pernikahan itu. Semua keluarga pasti senang mendengar kabar ini. Khususnya bagi Pak Joyo dan istrinya.
Suatu hari, Pak Joyo dan istrinya dambakan menginap di rumah Risma dan suaminya gara-gara dambakan menyaksikan sekaligus menjaga Risma yang ditinggal suaminya bekerja. Namun, itu cuman alasan saja. Pak Joyo dan istrinya punya niat laksanakan perihal lain di rumah itu.
“Apa kabar kamu, Nak?” bertanya istri Pak Joyo sambil memeluk Risma selepas pintu dibukakan.

“Sangat baik, Bu,” jawab Risma.
“Alhamdulillah jikalau begitu, Nduk. Harus pintar-pintar jaga kesegaran gara-gara kehamilanmu udah agak tua,” jawab istri Pak Joyo.
“Iya, Bu. Ayo masuk Pak, Bu,” Risma mempersilakan orang tuanya masuk.
Sementara istri Pak Joyo berjalan menuju kamarnya bersama Risma, Pak Joyo diam-diam menyelinap ke kamar Risma dan suaminya. Sesampainya di sana, Pak Joyo lantas mengeluarkan barang-barang yang udah dibungkus kain.

Di dalamnya berisi jarum, benang merah, dan sepotong kain kafan. Pak Joyo sesudah itu menyimpan bungkusan kain tersebut di di dalam sebuah buffet yang sepertinya jarang dipakai untuk menyimpang barang-barang. Setelah selesai, Pak Joyo lagi join bersama Risma dan istrinya.

“Dari mana saja Pak?” bertanya Risma yang bertemu Pak Joyo di depan kamar yang akan ditempati Pak Joyo dan istrinya.

“Dari kamar mandi tadi, Ayah kebelet, udah nggak tahan,” jawab Pak Joyo sekenanya.
“Oh, ya sudah. Nanti ayah tidur di sini sama Ibu ya. Yang betah ya Yah, anggap rumah sendiri,” kata Risma sambil tersenyum.