Cerita Seram Kuntilanak Berwarna Hijau 2020

Cerita Seram Kuntilanak Berwarna Hijau 2020

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, kala penghuni kos menghilang dibawa pergi kuntilanak hijau yang bahagia menari.

Desas-desus cewek cantik masuk kawasan kosan pria punya Pak Japardi santer diperbincangkan warga sekitar. Warga berkata, tindakan asusila yang melenceng berasal dari norma wajib segera ditindak. Apalagi, ini adalah kompleks kosan pria yang kondang beradab sejak dulu. Mahasiswanya pun berasal berasal dari universitas berbasis keagamaan. Tidak dulu tersedia persoalan sebelumnya. Apalagi tindakan asusila seperti ini.

Tidak tersedia yang mengira terkecuali cewek itu ternyata kuntilanak legendaris….

Pak Japardi, selaku pemilik kosan pun muntab. Dia tidak terima anak-anak kos tersedia yang berani bertingka

h. Tapi, apa berkenan dikata, Bu Ety lihat sendiri seorang wanita masuk ke dalam kosan punya Pak Japardi. “Cantik banget, Pak. Kulitnya putih kayak orang Timur dan gunakan gaun panjang warna hijau.”

Pak Japardi sangsi terhadap satu nama. Adalah Toni, remaja begajulan anak Fakultas Filsafat tahun akhir. Ia anak baru bekas usiran kos sebelumnya.

“Senakal-nakalnya saya, palingan hanya onani di kamar, Pak. Serius, Pak. Saya nggak berani bawa cewek masuk kos. Saya nggak mempunyai pacar, Pak, sungguh. Saya terhitung mikir-mikir terkecuali bawa cewek, setidaknya kosannya wajib kamar mandi dalam….”

“Lha kamu kenapa diusir berasal dari kosan sebelumnya?”

Sambil cengengesan Toni menjawab, “Nah, masalahnya, kosan aku yang sebelumnya itu fasilitasnya kamar mandi dalam, Pak.”

“Wooo, bocah edan.”

Esoknya Pak Japardi menempatkan CCTV. Selama ini, CCTV adalah hal yang paling Pak Japardi menjauhkan lantaran dirinya tetap mengusahakan percaya sama anak-anak kos. Sejak kejadian ini, Pak Japardi, bersama dengan terpaksa, pakai CCTV. “Untuk menjauhkan fitnah,” kata Pak Japardi di depan anak-anak kos.

Pergunjingan tindakan asusila di kos Pak Japardi bergulir bagai bola panas. Hingga terhadap akhirnya, tersedia kembali yang lihat cewek cantik masuk ke kos terhadap malam hari. Katanya, setelah wanita itu masuk, terdengar nada gamelan.

“Serius, Bu?” Tanya Pak Japardi kaget setelah mendapat laporan berasal dari Bu Ningsih.

“Serius, Pak, ngapain bohong. Ceweknya cantik, sama kayak yang diceritain Bu Ety, gunakan gaun warna hijau. Tapi, Pak….” Bu Ningsih berhenti bercerita. Dia memegang tangannya dan menggosok-gosok seperti sedang ketakutan.

“Tapi apa, Bu? Toni, ya? Masuk ke kosnya Toni, ya? Kos paling pojok itu?”

“Bukan, Pak. Ada nada gamelan. Saya dekati to pintu pagar kosan, ternyata wanita berpakain hijau itu sedang menari di sedang halaman, Pak. Dia melirik ke saya, wajahnya pucat. Mak tratap aku lari.”

Pak Japardi mulai tersedia yang aneh di sini. Ada yang nggak pas. Kalau memang cewek itu dibawa salah satu anak kos, ngapain malam-malam menari di sedang halaman. “Apa ya halaman kosku itu nampak kayak panggung wayang orang. Ada-ada saja.”

Tapi tetap saja, rasa sangsi Pak Japardi ke Toni tetap ada. Paling tidak, dia mulai wajib menegaskan kebenaran soal cewek masuk kosan.

Pak Japardi mengajak Toni menuju ruang tamu untuk nobar rekaman CCTV. Rekaman dimulai, berkali-kali diputar, hanya tersedia Bu Ningsih yang terlihat kaget dan lari tunggang-langgang.

“Ini kami berkenan bahas janda satu anak itu, Pak?” Tanya Toni kebingungan.

“Hush, ngawur!”

“Lha nggak tersedia siapa-siapa tak sekedar Bu Ningsih, Pak.”

Pak Japardi masih agak bingung, namun tidak kembali sangat kaget. Memang tersedia yang aneh di kosnya.

Akhir pekan itu kosan Pak Japardi sepi. Beberapa anak kos tersedia pulang, yang lain kembali main dikarenakan libur.

Pak Japardi terus perhatikan rekaman video. Hingga terhadap suatu bagian, Bu Ningsih jringat kaget dan lari macam dikejar setan. “Loh, Bu Ningsih larinya kok seperti itu?” Gumam Pak Japardi.

Ketika asyik mengamati rekaman video itu, aroma bunga melati berganti-gantian bersama dengan bau bangkai tercium. Pak Japardi lihat ke Toni, yang sama-sama kaget dikarenakan bau asing yang tiba-tiba datang.

“Bapak cium juga?”

“Iya! Kamu juga, kan?”

Toni tidak menjawab. Aroma bunga melati dan bau bangkai itu memang tipis saja. Namun, kata orang, terkecuali baunya tipis, kuntilanak yang mempunyai aroma itu justru sangat dekat. Konon katanya, jaraknya hanya sekian milimeter saja.

Tiba-tiba saja terdengar nada gamelan. Toni njondil dan mencoba mengakses pintu ruang tamu kosan. Wajah Pak Japardi pucat bukan main.

Pak Japardi yang kegalauan dan kakinya ngewel pun mencoba mengikuti Toni yang pergi ke jendela. “Pak… tersedia cewek, Pak,” kata Toni.

Posisi Toni dan Pak Japardi belum sampai ke jendela. Jadi, keduanya lihat kejadian itu persis berasal dari sedang ruang tamu. Keduanya lihat seorang wanita, gunakan gaun hijau, di sedang halaman, sedang menari mengikuti nada gamelan.

Wajah kuntilanak itu tidak terlihat dikarenakan sedang memunggungi mereka. Mulut Pak Japardi menganga, wajahnya makin lama pucat.

“Bajunya… hijau,” kata Pak Japardi lirih.

Toni memang kuatir juga. Namun, entah kenapa dia dapat setenang itu.

“Buka saja, Pak, pintunya. Takutnya orang gila… matang Pak Japardi takut.”

Pak Japardi agak kesal bersama dengan perkataan Toni. Pak Japardi kondang sebagai sosok agamis di kampung. Masak kuatir sama kuntilanak. Malu, dong.

Dengan hati yang bergejolak, Pak Japardi mengakses pintu. Kreeekkk… nada pintu yang udah reot itu terdengar nyaring.

Kuntilanak itu tiba-tiba bergerak cepat mengarah ke Pak Japardi. Kaget, Pak Japardi terjengkang. Mata kuntilanak itu seutuhnya putih. Dari dekat, terlihat tersedia bercak-bercak darah di gaunnya yang berwarna hijau.

Pak Japardi tak dapat berdiri. Kakinya lemas. Dia hanya dapat mendaraskan doa. Mendengar doa Pak Japardi, kuntilanak hijau itu malah tersenyum lalu menari. Saking takutnya lihat senyum kuntilanak yang sedang menari, Pak Japardi sampai ngompol.

Sadar doa-doanya tidak manjur, Pak Japardi memilih mengumpat. “Asu! Bajingan! Minggat!”

Toni hanya dapat melongo lihat Pak Japardi yang misuh-misuh, ngompol, dan menangis secara bersamaan. Kuntilanak hijau itu terus menari sambil tersenyum ke arah Pak Japardi. Seperti penari profesional yang sedang menghibur tuan tanah saja. Konon, kuntilanak hijau adalah seorang wanita yang mati mengenaskan.

Setelah bahagia menari di depan Pak Japardi, kuntilanak itu mengalihkan pandangan ke arah Toni. Kaget, Toni bergegas lari ke arah kamarnya.

Kuntilanak hijau itu mengikuti Toni. Tidak tersedia kembali sosok cantik. Wajah kuntilanak hijau itu berubah menyeramkan. Lidah panjang terjulur, wajah putihnya jadi pucat dan basah. Bau amis tercium.

Dengan cepat, Toni mengakses pintu kamar kosnya. Telat. Kuntilanak hijau itu udah dekat, lidahnya terjulur tepat di depan wajah Toni.

Anehnya, rasa kuatir malah tidak terlihat di wajah Toni. Toni berbisik, “Monggo… silahkan masuk, Nyai….”

Kuntilanak hijau itu pun masuk ke kamar Toni yang udah penuh bersama dengan asap dupa. Toni dan nada gamelan hilang.

Pak Japardi lihat panorama itu bersama dengan mata terbelalak. Dia tidak percaya bersama dengan apa yang terjadi. Bingung dan kuatir jadi satu.

Hingga kini, Toni menghilang dan belum ditemukan. Kamar penuh asap dupa itu tiba-tiba bersih. Tidak tersedia kembali bau melati dan bangkai. Tidak tersedia kembali nada gamelan.

Kos-kosan itu masih membuka sampai sekarang. Tidak tersedia kembali gangguan. Tidak tersedia kembali keanehan. Satu-satunya perasaan aneh yang tertinggal di antara penghuni dan pemilik kos adalah nasib Toni setelah masuk ke kamar bersama dengan kuntilanak hijau itu.

*Cerita ini berdasarkan kisah nyata, yang dituturkan kembali bersama dengan bahasa penulis atas seizin yang mempunyai cerita bersama dengan sedikit bumbu-bumbu drama.