Cerita Horor Asal Muasal Genderuwo

Cerita Horor Asal Muasal Genderuwo

Cerita Horor Asal Muasal Genderuwo – Genderuwo adalah keliru satu makhluk halus yang lumayan kerap disebut-sebut orang Indonesia lebih-lebih di area perkampungan. Tetapi layaknya apa asal-usulnya?

Nama asli Genderuwo dikira berdasal berasal dari nama Gandarva (dibaca: Gandarwa). Dulu di pas tanah Nusantara ini masih kental bersama dengan nilai-nilai Hindu dan Buddha, penduduk setempat sudah mengenal bersama dengan nama Gandarva. Suatu makhluk tidak kasat mata yang bertugas sebagai pembawa pesan berasal dari para dewa dan pemusik surgawi. Jadi terhadap dasarnya mereka adalah makhluk supranatural yang tinggal di khayangan. Bahkan sampai hari ini, orang India memanggil “Gandarva” untuk orang-orang yang pakar di musik klasik India.

Nama Gandarva ini sesudah itu di budaya Jawa berubah nama jadi sama bersama dengan nama Genderuwo. Dan sejalan bersama dengan pergeseran budaya dan tradisi, genderuwo di Jawa pun sudah berubah drastis bersama dengan Gandarwa itu.

Genderuwo terhadap budaya Jawa kelanjutannya merujuk ke makhluk halus yang berperawakan besar, hitam dan mata merah.

Asal Usul GenderuwoBy Billy | 18 April 2020
Info Misteri
Genderuwo adalah keliru satu makhluk halus yang lumayan kerap disebut-sebut orang Indonesia lebih-lebih di area perkampungan. Tetapi layaknya apa asal-usulnya?

Nama asli Genderuwo dikira berdasal berasal dari nama Gandarva (dibaca: Gandarwa). Dulu di pas tanah Nusantara ini masih kental bersama dengan nilai-nilai Hindu dan Buddha, penduduk setempat sudah mengenal bersama dengan nama Gandarva. Suatu makhluk tidak kasat mata yang bertugas sebagai pembawa pesan berasal dari para dewa dan pemusik surgawi. Jadi terhadap dasarnya mereka adalah makhluk supranatural yang tinggal di khayangan. Bahkan sampai hari ini, orang India memanggil “Gandarva” untuk orang-orang yang pakar di musik klasik India.

Nama Gandarva ini sesudah itu di budaya Jawa berubah nama jadi sama bersama dengan nama Genderuwo. Dan sejalan bersama dengan pergeseran budaya dan tradisi, genderuwo di Jawa pun sudah berubah drastis bersama dengan Gandarwa itu.

Genderuwo terhadap budaya Jawa kelanjutannya merujuk ke makhluk halus yang berperawakan besar, hitam dan mata merah.

Di di dalam bukunya berjudul De Javaansche Geestenwereld (Dunia Roh Jawa), H.A van Hien menyatakan genderuwo bukanlah makhluk jahat. Kebiasaan utamanya adalah menakut-nakuti manusia. Di siang hari, ia sanggup tampil bersama dengan bentuk ular besar, buaya atau macan. Di malam hari, ia sanggup berubah bentuk jadi Laki-laki rupawan yang mengganggu perempuan yang melalui di jalan sepi.

Namun, terhadap dasarnya berdasarkan kepercayaan Jawa, Genderuwo adalah makhluk yang tidak membahayakan manusia, karena terhadap biasanya cuma menakut-nakuti bersama dengan wujud-nya yang besar, hitam dan kekar. Atau bersama dengan melempar batu ke atap tempat tinggal atau pintu.

Hal ini terhitung ditekankan di buku tua lainnya, The Religion of Java (yang versi bahasa Indonesia-nya dicetak bersama dengan judul Abangan, Santri, Priayi di dalam Masyarakat Jawa) karya antropolog Clifford Geertz. Clifford mewawancara dan meneliti penduduk Jawa di th. 1950an. Menurut isikan bukunya, Genderuwo terhadap dasarnya tidak tersedia tekad jahat dan tujuannya adalah untuk menakut-nakuti.

Pada satu ketika, Pak Paidin tiba-tiba terjatuh berasal dari jembatan pas berjalan. Ketika dia terjatuh ke air, sesosok menghambat tangannya. Dengan bahasa Jawa kuna (klasik), sosok itu bertanya apakah Paidin baik-baik saja.

Namun, menurut Clifford, betapapun Genderuwo menyukai lelucon, makhluk ini terhitung berbahaya. Sering kali mereka muncul di dalam bentuk orangtua, kakek, anak, atau saudara kandung sambil berkata: “Hei, ayo ikut aku.”

Jika orang selanjutnya menuruti ajakannya, maka dia bakal jadi tidak terlihat. Keluarga yang kehilangan bakal mencarinya sambal memukul pacul, arit, panci, dan alat-alat yang menghasilkan nada bising. Suara gaduh itu bakal mengganggu genderuwo sehingga bisa saja senang melepaskannya.

Atau pas genderuwo menawarkan makanan kepada si korban. Kalau korban memakannya, dia bakal selamanya tak terlihat; jikalau menolak, dia bakal terlihat lagi dan keluarganya bakal menemukannya.

Kasus lain yang beresiko adalah genderuwo terkadang sanggup meniduri wanita manusia. Kadang-kadang, menurut Clifford, genderuwo sanggup menyamar jadi suami seorang perempuan lalu menidurinya. Maka, lahirlah anak yang menyerupai raksasa. Berdasarkan catatan Clifford, dia mendapatkan informasi di Mojokuto, tersedia seorang yang tampangnya besar, hitam dan bentuknya aneh, yang konon dipercaya hasil berasal dari genderuwo dan manusia. Usianya cuma sampai umur 16 tahu, lalu meninggal.

Belakangan di th. 2013, Indonesia terhitung sempat dihebohkan oleh Wagini yang mengaku anak genderuwo berasal dari Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur yang apalagi sempat tampil di beberapa televisi nasional.

Walaupun genderuwo biasanya adalah baik, tapi adalah tidak baik untuk menyelepekan atau bersikap tidak sopan. Membicarakan gendruwo bersama dengan tidak sopan atau apalagi menghinanya sanggup saja sebabkan dia marah dan tersinggung, jikalau secara kebetulan dia